I Love Words. And I Am Loved by Words.
Wanita itu mengernyit. Pandangannya dilayangkan keluar, jauh sejauh-jauhnya dari laki-laki yang berkacak pinggang di depannya. Wajahnya masih dipenuhi make up, dengan setelan kerja berpotongan rendah warna pinknya yang belum dilepas, dan high heels di kakinya. Laki-laki itu berdiri tegap tak bergerak, dengan dada naik turun.
“Kenapa ya ada ibu kayak kamu?” Laki-laki itu berbisik.
“Ibu kayak apa? Saya nggak ngapa-ngapain. Saya punya pilihan untuk itu kan?” Perempuan itu masih membuang muka.
Laki-laki itu akhirnya maju dan menangkap wajah si perempuan. “Itu anak kamu. Anak kita. Kenapa kamu sampai nggak bersedia ngasih bagian diri kamu buat kesehatan dia? Kayak ibu-ibu lain?”
“Mas nggak akan ngerti. Mas kan laki-laki. Nggak usah digelayutin di dada tiap anak nangis. Digigit. Ngeliat bentuknya berubah.”
“Egois itu namanya.”
“Nggak! Denger ya Mas, saya udah bilang dari dulu, saya belum siap punya anak. Mas sih sudah dorong-dorong!”
“Ah, telat 9 bulan kamu ngomongnya! Ini anaknya udah keluar. Dia butuh kamu. Butuh susu juga.”
Dengan tangan bergetar, perempuan itu mengaduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak berbentuk balok agak tebal, dengan gambar anak kecil dengan mainan warna-warni di keluarnya.
“Nih! Apa yang kurang? Protein ada. Terus katanya bisa bantu naikin pertahanan tubuh anak kalau dia comot-comot makanan dari lantai. Kurang apa coba? Mas nih pikirannya purbakala.”
“Purbakala apa? Susu dari badan kamu itu nggak bisa digantiin susu sapi macam gini! Kamu mau anak kamu jadi anak sapi? Susah deket kamu ntar sama anak kita.”
Perempuan itu berdiri. “Mas! Mas bisa nggak ngerhargain aku? Aku tuh malu. Di tempat umum cari-cari tempat nyusuin. Dan repot. Aku nggak bisa, aku nggak siap kalau badan aku jadi berubah bentuk. Mas emang mau? Mau bagi-bagi sama ade?”
Sekarang tawa meledak di mulut laki-laki itu. “Aku nggak percaya sama semua yang kamu omongin. Apaan sih? Iya, kamu cantik, wanita karir, malu, oke. Tapi dia anak kamu. Dia pengen punya hubungan khusus sama kamu. Salah satunya ya lewat susu kamu. Kata siapa juga badan berubah? Ngerti nggak sih?”
“NGGAK! Udah, aku mau tidur. Besok lagi. Adek juga udah tidur. Kalau dia bangun, masak air panas terus bikin susu dari susu kotak ini aja.”
Laki-laki itu melangkah cepat ke dalam kamar. Pintu dibanting dengan suara menusuk. Perempuan itu mencopot blazer pinknya dan segera menyusul ke arah kamar.
“Mas! Ngertiin aku dong!”
Tidak ada jawaban. Perempuan itu mengetuk. Laki-laki itu tidak keluar. Dia duduk tersungkur di depan pintu. Mendengus.
Beberapa belas menit kemudian, laki-laki itu keluar dari kamar. Tidak ada ekspresi. Tidak ada lirikan sedikitpun pada istrinya. “Aku mau keluar.”
“Aku tidur sama siapa…” Perempuan itu mendekati si laki-laki, menempelkan tubuhnya untuk mengajak si laki-laki masuk lagi. “Mas…”
Laki-laki itu menangkis tubuh si perempuan. “Di dalam udah ada pisang. Sama pisang aja. Sama bergizinya kok.”
“MAS!”
-
onyeandina liked this
-
blue-asyoureyes liked this
-
lovedbywords posted this